Ini Dia Ketentuan New Normal, Agar Bisa Berdamai Dengan Corona

SEJAK merebaknya wabah virus Corona, badan kesehatan dunia WHO menetapkannya sebagai pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Tercatat jumlah orang di seluruh dunia yang terpapar Covid-19 telah mencapai lebih dari 5 juta orang. Karena penyebarannya begitu masif dan mematikan, banyak negara akhirnya menerapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah.

Kebijakan lockdown atau karantina wilayah ini telah menyebabkan dampak pada berbagai aspek kehidupan. Selain kehilangan pekerjaan dan kesulitan makan, berdiam diri di rumah terlalu lama juga memunculkan dampak psikologis yang tak kalah beratnya.

Indonesia sendiri telah menerapkan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk mencegah penyebaran virus Corona. Aktivitas perkantoran dan bisnis dihentikan, masyarakat pun dilarang berkumpul.

Konsep new normal belakangan menjadi viral dan diperbincangkan tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia, Setelah presiden Joko Widodo mengajak masyarakat hidup berdamai dengan virus corona. Konsep ini tak hanya diberlakukan di negara kita namun juga dilakukan oleh negara lain, karena merupakan konsep dari badan kesehatan dunia WHO.

Untuk diketahui, new normal merupakan aktivitas hidup akan dikembalikan pada kondisi sebelum terjadinya Covid-19. Saat ini banyak negara yang tertarik dan ingin menerapkannya dengan melonggarkan aturan lockdown.

BACA : NTT Masuki Era ‘New Normal’ Mulai 15 Juni

Kini di Indonesia telah menerapkan new normal sebagai upaya agar bisa berdampingan dengan virus Corona. Namun untuk menjalani new normal ini, ada banyak ketentuan harus diperhatikan agar tidak terjadi penyebaran virus corona sehingga tidak terjadi lonjakan jumlah kasus positif.

Meskipun aturan pembatasan sosial dilonggarkan namun kehidupan baru nantinya akan tetap mengutamakan protokol kesehatan yang ketat. Baik dalam beraktivitas di kantor, berbelanja, makan di restoran, hingga dalam beribadah.

Meskipun konsep new normal ala Indonesia mendapat kritikan dari berbagai kalangan namun dampak pembatasan sosial juga tak kalah buruknya. Jika negara akan menerapkan konsep new normal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan melonggarkan physical distancing. Karena itulah penerapannya akan berhasil jika diikuti peningkatan kesadaran dari masyarakatnya.

Sedangkan WHO sendiri memberikan beberapa ketentuan sebagai syarat diberlakukannya new normal ini. Berikut beberapa ketentuan yang disyaratkan WHO seperti dikutip dari laman resminya.

  1. Negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan COVID-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan.
  2. Sistem kesehatan yang ada, dari rumah sakit hingga peralatan medis sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi.
  3. Risiko wabah virus Corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi. Utamanya untuk rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental, maupun kawasan pemukiman yang padat.
  4. Untuk penerapan new normal WHO di lingkungan kerja ditetapkan langkah-langkah pencegahan melalui penerapan jaga jarak fisik (physical distancing), fasilitas cuci tangan, dan etika pernapasan (dengan masker).
  5. Risiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus bisa dikendalikan.
  6. Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberikan masukan, berpendapat, dan dilibatkan dalam proses masa transisi konsep new normal WHO ini. (*/HZN)

loading...

promoNTT.com

Tinggalkan Balasan

Next Post

UPDATE COVID-19 NTT: Pemeriksaan 92 Sampel Swab Hari ini Negatif

Rab Mei 27 , 2020
Gugus Tugas Covid-19 Nusa Tenggara Timur mengupdate data pasien terpapar corona. Hingga […]
error

Bagikan ke Teman

RSS
Follow by Email
Instagram
%d blogger menyukai ini: