Beternak Ayam KUB Mampu Atasi Pengangguran dan Kemiskinan di Desa

  • Bagikan

MASYARAKAT pedesaan secara tidak proporsional dibebani oleh dampak pengangguran dan kemiskinan. Kemiskinan membatasi kemampuan komunitas pedesaan untuk berinvestasi dalam pengembangan komunitas mereka sendiri. Para pemimpin dunia, melalui PBB, telah menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas utama, sebagaimana dibuktikan dengan penunjukannya sebagai yang pertama dari Tujuan Pembangunan Milenium (Perserikatan Bangsa-Bangsa (a), 2010: 1).

Kegiatan terkait pertanian diketahui menyediakan sekitar 70% lapangan kerja di daerah pedesaan di negara berkembang (Bank Dunia, 2013). Meskipun demikian kemiskinan masih sebagian besar terkonsentrasi di daerah pedesaan dan ini kemungkinan besar akan tetap menjadi kasus untuk beberapa dekade mendatang (United Nations Water Assessment Programme, 2014: 62).

Peternakan ayam Buras/Kampung yang berkelanjutan membutuhkan pengetahuan, tetapi ini adalah keterampilan yang relatif tidak rumit yang dapat diajarkan kepada individu pedesaan yang memiliki sedikit atau tidak ada pendidikan formal.

Mayoritas individu pedesaan memiliki pengetahuan tentang pemeliharaan ayam kampung dalam skala luas karena merupakan praktik umum bagi sebagian besar masyarakat pedesaan untuk memelihara beberapa ayam berlarian di halaman belakang rumah mereka.

Tujuannya adalah untuk membuat peternak di pedesaan memelihara ayam kampung dalam skala semi-intensif sehingga mereka bisa mendapatkan uang dan juga melengkapi kebutuhan makanan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan standar hidup mereka.

Kenapa Beternak Ayam Kampung?

Erasmus (2011: 11) dan SAPA (2012: 10) menunjukkan beberapa alasan mengapa peternakan ayam kampung dianggap sebagai cara cepat dalam upaya mengentaskan kemiskinan pedesaan:

  1. Ini adalah jenis usaha yang sebagian besar orang pedesaan telah memiliki pengetahuan.
  2. Diperlukan waktu yang sangat singkat mulai dari saat dimulainya usaha hingga saat petani mampu menjual beberapa hasil panen. Ayam kampung pedaging dapat dijual untuk daging setelah enam minggu jika dipelihara dalam kondisi optimal.
  3. Modal yang relatif kecil diperlukan untuk memulai dibandingkan dengan pemeliharaan ternak lainnya, misalnya. Sedikitnya 50 unggas dapat secara signifikan mengubah mata pencaharian penduduk pedesaan yang miskin.
  4. Tidak diperlukan tenaga kerja upahan untuk usaha seperti itu. Tenaga kerja keluarga biasanya cukup.
  5. Ketua Asosiasi SMD NTT melaporkan, ayam kampung mengkonsumsi 3 kg pakan berbasis biji-bijian diperlukan untuk menghasilkan 1 kg berat hidup karena ayam kampung tidak makan banyak makanan.
  6. Produksi ayam kampung terus menunjukkan tren yang meningkat secara lokal dan internasional, mengungguli sumber protein lain, seperti daging sapi dan babi.

Pentingnya Sosial Ekonomi Keluarga Peternakan Ayam Kampung

Dimungkinkan untuk memberantas gizi buruk di daerah pedesaan dengan mendorong masyarakat pedesaan untuk memelihara beberapa ayam kampung petelur untuk rumah tangga mereka. Selusin ayam kampung yang dipelihara mampu menghasilkan 11 telur sehari. Keluarga dapat dengan mudah mengelola usaha seperti itu. Ini akan melengkapi kebutuhan pangan keluarga yang diperlukan dan pada saat yang sama telur tambahan dapat dijual untuk memberikan penghasilan tambahan yang sangat dibutuhkan (Ili, 2012). (*/PNT)

Penulis: Afro Making
(Pegiat Ayam KUB, tinggal di Kupang)

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *