Angka Covid-19 Meningkat Akibat Penanganan Tak Konsisten

  • Bagikan

EPIDEMIOLOG dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia(PAEI), Masdalina Pane, menyatakan lonjakan angka kematian menunjukkan bahwa penanganan pandemi Covid-19 berjalan di jalur yang salah.

Menurutnya, salah satu penyebab angka kematian pasien Covid-19 mengalami lonjakan adalah pemberian penanganan yang terlambat karena faktor ketidaksiapan sistem kesehatan Indonesia untuk menangani pasien dengan gejala sedang hingga berat.

“Mengapa kematian kita tinggi, karena dia menjadi sinyal epidemiologi, [artinya] menunjukkan bahwa pengendalian kita berada pada jalan yang salah,” kata Masdalina dikutip dari CNNIndonesia, Kamis (28/01/2021).

“Sistem kesehatan kita tidak siap untuk menampung mereka. Sehingga kita lihat di minggu terakhir, pasien dengan berat dan kritis itu harus pergi ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan akses,” imbuhnya.

Dia menerangkan, banyak rumah sakit swasta di Indonesia yang tidak mau mengalokasikan tempat tidurnya untuk merawat pasien Covid-19. Menurutnya, hal ini dilakukan karena rumah sakit swasta tersebut takut kehilangan pasien yang tidak terkait dengan Covid-19.

Kesalahan selanjutnya, menurut Masdalina, banyak rumah sakit darurat terlalu sibuk menampung pasien Covid-19 yang tidak memiliki gejala alias OTG atau gejala ringan.

Berdasarkan data dari Satgas Penanganan COVID-19 hingga Minggu (13/12) pukul 12.00 WIB di Indonesia tercatat ada penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 6.189 orang sehingga total mencapai 617.820 orang sedangkan pasien sembuh bertambah 4.460 orang menjadi 505.836 orang.

Sedangkan lonjakan kasus kematian pasien Covid-19 mulai terjadi sejak awal 2021. Berdasarkan data Satgas Covid-19 di laman covid19.go.id, temuan di atas 300 kasus kematian pertama terjadi pada 12 Januari yakni sebanyak 302 kasus.

Dia menyatakan pasien OTG Covid-19 hingga gejala ringan seharusnya dibiarkan untuk menjalani isolasi mandiri di rumah. Rumah sakit, katanya, seharusnya lebih memberikan tempat kepada pasien Covid-19 yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid hingga pasien yang bergejala sedang serta berat.

“Pasien dengan tanpa gejala atau ringan itu enggak usah dirawat, di rumah, namanya isolasi mandiri. Kalau ada yang komorbid, baru itu yang harus dirawat,” katanya.

Dia melanjutkan, pemerintah seharusnya juga melakukan perekrutan terhadap relawan untuk membantu fasilitas kesehatan tingkat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) memantau pasien-pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Menurutnya, setiap orang yang memiliki jejak kontak erat dengan pasien positif Covid-19 harus menjalani karantina selama 14 hari tanpa terkecuali.

“Ini yang tidak kita lakukan, kita sibuk setiap hari dengan rumah sakit, dokter, perawat, bidan yang meninggal, tapi di hulunya tidak kita kita urus,” tutur Masdalina.

Masdalina pun mengkritik langkah pemerintah yang terlalu sibuk mengampanyekan jargon 3M yakni mencuci tangan, memakai masker, serta menjaga jarak. Menurutnya, langkah pemerintah tersebut menjadi salah satu penyebab angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia tinggi.

Masdalina menegaskan, langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian pasien Covid-19 adalah menjadikan pasien dengan gejala sedang hingga berat sebagai prioritas penanganan.

“India, Amerika Serikat itu kasus tertinggi, mereka puluhan ribu per hari, Amerika Serikat itu 240 ribu per hari. Itu biasa saja, yang penting mereka ditemukan tanpa gejala atau gejala sangat ringan,” ucap Masdalina.

“Yang harus diantisipasi itu kalau kita temukan dalam kondisi sedang berat dan kritis. Jadi sebelum dia mati yang harus kita antisipasi, karena kalau kematian tinggi nanti ke pemakaman lagi yang repot, itu sudah sangat terlambat,” imbuhnya.

Sementara itu menurut Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra faktor penyebab angka kematian pasien Covid-19 tinggi ialah ketidakkonsistenan dalam melaksanakan testing, tracing dan treatment (3T).

Menurutnya, ketidakkonsistenan itu mengakibatkan proses perawatan terhadap pasien tidak bisa dilakukan secara cepat.

“Kuncinya 3T. Logika yang paling sederhana, kalau kita lakukan testing pada 10 orang kemudian setiap hari 10 orang, kemudian kita dapatkan tiga orang terus, itu tandanya ada konsistensi angka di lapangan yang tinggi, maka harus testing ditingkatkan, sehingga temuan kasus cepat dan perawatan cepat sehingga banyak yang bisa dicegah dari meninggal atau sakit parah,” katanya.

Ia pun mengkritik angka specimen rate yang masih rendah. Menurut Hermawan, specimen rate Indonesia seharusnya sudah berada di atas 200 ribu per hari.

“Kemarin spesimen rate itu masih 75 ribu, padahal kasus kita seharusnya sudah di atas 200 ribu per hari. Ini jadi catatan masalah kita ada di testing, tracing, dan treatment,” katanya.

Berangkat dari itu, Hermawan menyatakan bahwa penyediaan fasilitas kesehatan untuk masyarakat melakukan isolasi mandiri merupakan tantangan yang harus segera dijawab saat ini.

Menurutnya, pemerintah juga harus segera melakukan upaya kesehatan masyarakat dengan menyediakan pelayanan kesehatan masyarakat yang berbasis komunitas.

“Itu kunci, kalau masyarakat berdaya mandiri menyediakan ruang isolasi di RT/RW itu pasti akan sangat membantu pemerintah, karena kita butuh kecepatan sekarang, sementara kasus ini akan naik terus,” tuturnya. (*/NET/PNT)

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *