Click it!
Membantu Ekonomi Keluarga, Kerajinan Tanah Liat Mama Mince Butuh Perhatian Pemerintah | promoNTT.com

Membantu Ekonomi Keluarga, Kerajinan Tanah Liat Mama Mince Butuh Perhatian Pemerintah

SEJAK dulu masyarakat Indonesia telah mengenal kerajinan tanah liat sebagai bagian dari sejarah dan budaya setempat. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia kerajinan tanah liat telah berubah menjadi sebuah aktivitas industri. Sejarah kerajinan ini jika ditilik cukup panjang, bahkan kerajinan tanah liat ini dipercaya sebagai karya seni tertua.

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri, Kerajinan tanah liat sebenarnya juga sudah ada sejak dulu. Salah satu produk kerajinan tanah yang biasa kita temui di NTT adalah periuk tanah, dimana saat ini kerajinan tersebut sudah jarang ditemui.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat dari seorang Hermince Metboki, di Desa Subun Bestobe, Kecamatan Insana Barat untuk menjadikan kerajinan tanah ini menjadi penggerak ekonomi keluarganya.

Kepada PROMO NTT, perempuan yang biasa disapa mama Mince ini mengaku telah menekuni pekerjaan sebagai pengrajin periuk tanah sejak tahun 2001 hingga sekarang. Menurutnya pekerjaan yang dilakukannya ini bisa membantu suami membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya kuliah anak -anaknya.

“Ini pekerjaan pokok sehari-hari. Saya tidak bisa menenun dan saya hanya fokus dengan membuat periuk tanah untuk dijual ke pasar Maubesi”, ungkap mama Mince Saat ditemui di rumahnya, Kamis (19/11/2020).

Lebih lanjut Ibu dari 4 orang anak ini mengatakan, dalam satu minggu ia bisa membuat dan menghasilkan 8-12 buah periuk tanah.

PERIUK TANAH. Salah satu hasil kerajinan tanah liat milik Hermince Metboki.

“Biasa dalam satu minggu, kalau fokus saya bisa buat 12 buah periuk tanah dengan ukuran yang berbeda-beda, harga satu buah periuk tanah kalo di jual sekitar Rp 25.000 sampai Rp 150.000. Tergantung ukuran nya”, lanjut mama Mince.

Mama mince menuturkan Terkait dengan bahan yg diperlukan dalam pembuatan periuk tanah, dirinya harus berjalan sejauh puluhan kilo untuk mendapatkan bahan-bahan yang baik.

“Kami biasa ambil pasir untuk buat periuk tanah di Seunbam, jadi kadang-kadang kami junjung dari sana sampe rumah sini. Karena di sekitar sini pasir tidak ada yang bagus, kalau tanah liat kami biasa ambil di dekat sini”, tutur mama Mince

“Saya buat secara manual saja, Kalau mau putar ini pakai tangan saja. Tanah itu kita putar pakai tangan, sambil kita kasih halus dengan kain basah. Ini saya pelajari dari orangtua saya dulu ,” tutur Mama Mince.

Terkait dengan perhatian pemerintah mama mince mengungkapkan sampai saat ini juga belum ada perhatian khusus,namun pernah di minta oleh pihak kecamatan untuk membawa beberapa hasil kerajinannya untuk di pamerkan di pameran expo kabupaten TTU. (LPM/STA/PNT)

loading...

promoNTT.com

Next Post

Output Lulusan Pendidikan Vokasi Harus Mandiri dan Sukses

Rab Nov 25 , 2020
GUBERNUR Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan, pendirian Lembaga Pendidikan Vokasi di NTT seperti […]
GUBERNUR dan Polbangtek
error

Bagikan ke Teman

RSS
Follow by Email
Instagram