Berbagi Informasi, Mengungkap Jejak-Jejak Karya Dalam Dua Tahun Kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi | promoNTT.com

Berbagi Informasi, Mengungkap Jejak-Jejak Karya Dalam Dua Tahun Kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi

BACA VERSI E-PAPER

“Menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur bukanlah tujuan utama kami. Tujuan utama kami adalah mewujudkan panggilan moral spiritual, untuk menolong dan mengangkat masyarakat NTT keluar dari lembah kemiskinan.”

Itulah pernyataan menggelegar yang paling dikenang dari pidato politik Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dua tahun silam. Di hadapan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi NTT, Senin, (10/9/2018), Gubernur VBL dengan lugas menyampaikan apa yang menjadi spirit moral, yang ada di kedalaman sukma. Bahwa menjadi pemimpin, bukanlah tujuan utama.

Jabatan, bagi duet pemimpin yang lebih dikenal dengan brand politik, Victory-Joss, adalah untuk mewujudkan panggilan moral-spiritual; untuk membaktikan diri secara utuh, dengan kesungguhan dan ketulusan hati, dan bekerja secara fokus.

Cara-cara luar biasa yang digunakan dalam setiap gagaasan dan kerja nyata akan membebaskan rakyat NTT dari belenggu kemiskinan. Itulah spirit dan passion yang dipegang teguh, jabatan adalah jalan pengabdian. Bukan prestise, apalagi sesuatu yang luar biasa untuk dibanggakan. Kalimat yang lahir dari hasil refleksi dan permenungan mendalam, termanifestasikan dalam visi “NTT bangkit, NTT Sejahtera”, dan 5 Misi, antara lain:

  1. Mewujudkan masyarakat sejahtera dan adil.
  2. Membangun NTT sebagai salah satu gerbang dan pusat pengembangan pariwisata nasional (Ring of Beauty).
  3. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur untuk mempercepat pembangunan.
  4. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.
  5. Mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Hari ini, dua sahabat karib ini menahkodai NTT. 5 September 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta, keduanya dilantik oleh Presiden Joko Widodo, menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Dua tahun, tentu secara logika adalah waktu yang masih terlalu singkat. Tetapi dalam siklus kepemimpinan politik lima tahunan, dua tahun tetaplah rentang waktu yang sangat menentukan.

Selain sangat bermakna bagi Viktor dan Josef, dua tahun menjadi sangat penting bagi rakyat. Bagi rakyat, dua tahun menahkodai NTT sudah sepantasnya dinilai. Sebaliknya bagi Victory-Joss, dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat. Dua tahun berlalu begitu cepat. Dalam parade waktu, yang tersimpan hanyalah sulaman momen-momen bersejarah, dan meninggalkan jejak yang terus dikenang. Dua tahun, ibarat lukisan Tuhan tentang perjuangan siang-malam, berpikir dan bekerja keras demi mewujudkan mimpi ”NTT Bangkit, NTT Sejahtera.”

Itulah konsekuensi logis sebuah kekuasaan. Kritik dan cercaan akan tetap mewarnai masa-masa kepemimpinan VBL-JNS.

Tapi, penilaian tentu harus fair. Harus dipahami bahwa, dua tahun silam, saat Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi, M.M, mengestafet kepemimpin NTT, kondisi NTT tidak dalam keadaan yang sangat ideal. NTT saat itu, ibarat “negeri sejuta masalah”. Secara empirik, NTT masih dibelit dengan berbagai persoalan serius kala itu. NTT, provinsi termiskin nomor tiga di Indonesia dengan sejumlah masalah krusial lainnya.

Berkaca pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, masih ada 1,1 juta jiwa atau 21,28 % masyarakat NTT yang hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini di bawah angka kemiskinan nasional yakni 9,8 %.

Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT masih sangat rendah. IPM NTT saat itu hanya 63,72 %, berada di urutan ketiga terendah dari seluruh provinsi di Indonesia. 

Sejak memimpin, duet Victory-Joss juga langsung dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang sudah akut dan sekian lama mencengkram hidup masyarakat NTT. Mulai dari masalah kemiskinan yang masih tinggi, ketimpangan yang melebar, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, stunting dan humantrafficking.

NTT juga dibelit masalah buruknya tingkat kesehatan ibu dan anak, DBD yang terus meneror, masalah sanitasi, serta parahnya infrastruktur jalan, jembatan, listrik dan air. Masalah Sumber Daya Manusia juga harus mendapat perhatian lebih, khusus pada tingkat literasi masyarakat NTT di beberapa wilayah yang masih rendah. Masalah-masalah pelik tersebut ibarat batu uji yang pasti dijadikan masyarakat untuk menilai reputasi mereka.

Tetapi sebagai pemimpin yang sudah mendapat kepercayaan dan legitimasi rakyat NTT, Victory-Joss sangat percaya diri. Bahwasanya, dengan garansi jam terbang yang dimiliki, baik sebagai politisi, pengusaha nasional, maupun pengalaman di berbagai bidang tugas,  jejaring dan kemampuan lobi yang dimiliki. Mereka meyakini mampu membawa NTT keluar dari belitan berbagai persoalan tersebut dengan dukungan semua pihak. Sudah saatnya masyarakat NTT bekerja secara sungguh-sungguh, dalam semangat kolaborasi dan saling mendukung.

Pointnya ada pada birokrasi yang kuat. Di bawah nahkoda VBL-Nae Soi, mentalitas birokrasi harus berubah. Cara kerja para pemimpin wilayah di setiap tingkatan dan masyarakat sendiri, harus berubah. Mereka harus bisa berkorban dalam semangat kolaborasi. Sebab persoalan NTT yang demikian luar biasa, hanya bisa dihadapi juga dengan cara-cara extraordinary.

Keyakinan ini bergandengan dengan komitmen pemerintahan Victory-Joss, yakni fortiter in re et suaviter in modo, yang diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, berwibawa, berkarakter, dan melayani. Semua sektor wajib berkolaborasi, berbenah diri dan melakukan lompatan-lompatan besar lewat inovasi-inovasi dan terobosan baru.

Tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara lama dan biasa-biasa saja. Harus out of the box. Sebagai pemimpin NTT, VBL dan JNS yakin, dengan keterlibatan semua pihak dan kerja keras semua stakeholders terkait di seluruh wilayah NTT, mimpi “NTT Bangkit, NTT Sejahtera” akan terwujud. Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “Kita harus berjuang secara sungguh-sungguh. Sebab, target kita adalah kehormatan. Dan kehormatan itu hanya bisa digapai dengan pengorbanan semua pihak.

Sebagai pemimpin yang lahir dari “rahim” kemiskinan, Gubernur VBL dan Wagub Josef Nae Soi juga sangat paham tentang kemiskinan. Bagi Viktory-Joss, miskin itu masalah psikologis. Kemiskinan itu menyakitkan karena merendahkan martabat seorang manusia. Miskin tidak hanya tentang kekurangan pendapatan. Menurut Viktor dan Josef, kemiskinan menimbulkan efek psikologis yang diderita seseorang, yakni perasaan rendah diri dan terhina.

Kemiskinan telah menjadi sejarah hidup saya dan pak Josef Nae Soi. Kami pernah merasakan betapa pahit dan getirnya hidup dalam kemiskinan. Kami telah berjuang dan bertarung untuk keluar dari kemiskinan. Karena itu, ketika masyarakat telah mempercayakan tampuk kepemimpinan ini ke atas pundak kami, maka sudah tibalah saatnya kami menabuh tambur perang melawan kemiskinan. Kami berdua mau menjadi serva servorum bagi masyarakat NTT yang kami cintai.”

Waktu terus bergulir dan begitu cepat berlalu. 5/9/2020, VBL-Nae Soi genap dua tahun menahkodai NTT. Momentum dua tahun kepemimpinan dapat digunakan rakyat untuk mengevaluasi capaian kinerja mereka. Dua tahun adalah waktu yang krusial. Ada capaian dan tentu saja, ada juga kegagalan. Tetapi ukuran berhasil dan gagal dalam sebuah pemerintahan, akan dipotret dengan angka-angka capain yang rigid dan bersifat statistikal.

Narasi capaian pembangunan NTT selama dua tahun di tangan VBL-Nae Soi akan menunjukkan pembuktian dari janji-janji politik yang disampaikan. Tujuannya adalah agar masyarakat bisa memahami dan menilai secara fair, sejauh mana kiprah duet pemimpin ini. Apakah NTT masih tetap berada pada kondisi awal ketika duet Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi mengestafet kepemimpinan NTT di kala itu, ataukah sudah ada lompatan-lompatan hebat yang berhasil ditorehkan?

Setelah dua tahun NTT dinahkodai Viktory-Joss, apa yang didesain dalam visi dan misi sudah mulai memberikan hasil. Harus diakui bahwa, NTT pasca dua tahun, sudah mulai bangkit. Minimal bangkit dari beberapa persoalan serius di masa lalu. Bangkit dari belenggu kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, serta bangkit dari belitan masalah klasik yang sudah begitu akut, yaitu masalah stunting dan humantrafficking.

Berdasarkan data BPS 2019, jumlah orang miskin di NTT ternyata mulai berkurang. Kemiskinan NTT sudah berkurang sebesar 0,19%  (20,43%) di tahun 2019 dari 20,62%. Inilah buah kegigihan Gubernur Viktor dan Wagub Josef dalam bekerja dengan tanpa henti berkeliling ke berbagai wilayah NTT.

Masalah stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak juga sudah berhasil dikendalikan peningkatannya. Ukurannya adalah, berdasarkan data e-PPGBM (elektronik Pengukuran Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat) tahun 2019, angka prevalensi stunting menurun dari 42,6% pada tahun 2018, menjadi 27,9%  (Februari 2020) dan bahkan kondisi kasus Gizi Buruk agregat provinsi mulai berubah ke angka 2,4% (di bawah standar WHO) pada Februari 2020.

Bersamaan dengan itu pula, kasus Gizi Kurang mengalami pengurangan menjadi 8,2% (di bawah standar WHO). Pencapaian penurunan kasus kematian ibu, bayi dan balita juga menunjukan kinerja yang memuaskan.

Hal ini juga merupakan buah dari ketegasan duet kepemimpinan ini. Sejak awal, Gubernur Viktor selalu menekankan tentang pentingnya NTT memiliki pusat data yang kredibel. Karena salah satu masalah krusial yang membuat NTT tetap miskin dan salah urus adalah soal data. Gubernur Viktor selalu menggugat pemaparan kemiskinan dalam bentuk persentase.

“Ke depan, saya tidak tertarik bicara presentase, baik pada level provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Saya lebih tertarik kalau seorang camat datang bawa laporan jumlah orang miskin berapa,  keluarganya siapa dan terapinya apa. Karena yang kita terapi itu orang, bukan presentase,”. Dengan model pendekatan by name by address, program pengentasan kemiskinan, penanganan stunting dan masalah kematian ibu dan bayi, sudah mulai memberi hasil nyata.

Setelah hampir dua tahun bekerja, angka kematian ibu menurun dari 163 orang menjadi 98 orang pada tahun 2019. Angka kematian bayi menurun dari angka 1.044 bayi menjadi 822 bayi pada tahun 2019 dan kematian balita dari 1.174 balita menjadi 83 balita pada tahun 2019. Upaya pencapaian universal health coverage (UHC) pada tahun 2019 juga sudah mencapai persentase 84,67%. Selain itu, skor indeks pembangunan gender mencapai angka 96,67% dan indeks pemberdayaan gender pada skor 97,42 pada tahun 2019.

Pencapaian ini semakin menggetarkan lonceng kemenangan dalam memerangi kemiskinan hingga 2023, dengan mendorong peningkatan kualitas SDM dan fasilitas kesehatan. Persoalan rumah yang tidak layak huni dan yang belum berlistrik, selama dua tahun terakhir sudah bisa ditangani dengan benar dan lebih terukur di semua wilayah dengan melibatkan pemerintah kabupaten lewat dana desa.

Memasuki dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, keyakinan mereka bahwa pariwisata akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menggerakan kebangkitan sektor lainnya. Pariwisata yang ditetapkan sebagai Prime Mover pembangunan dapat memicu kebangkitan sektor-sektor lainnya seperti pertanian, peternakan dan kelautan, juga sektor pendukung seperti infrastruktur, akhirnya mulai memberi hasil yang menggembirakan.

Penegasan Gubernur Viktor dan Wagub Josef sejak awal bahwa membangun pariwisata adalah membangun peradaban, menciptakan dan melayani ekspektasi imajinasi manusia. Artinya, kualitas hidup masyarakat desa dan kota harus berubah ke level yang lebih berkualitas, agar disukai para wisatawan. Pariwisata semestinya mewujudkan kualitas hidup atau quality of life masyarakat NTT melalui aspek 5 A (atraksi, akomodasi, aksesbilitas, amenitas dan awareness), agar bisa menjadi opportunity of business. Sebagai sebuah komoditas, pariwisata NTT semakin memberi dampak secara ekonomi.

Dalam dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, geliat pembangunan pariwisata NTT yang berbasiskan pendekatan community based tourism mulai menunjukkan progress yang menggembirakan. Kualitas destinasi wisata prioritas yaitu pantai Liman, pegunungan Fatumnasi, Koanara, desa para pemburu Paus Lamalera, pantai Wolwal, pantai Praimadyta dan kawasan Mulut Seribu, berdasarkan kelima aspek tersebut mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat.

4 (empat) destinasi yang disebut telah diresmikan Gubernur VBL yakni, Mulut Seribu (15 Juni 2020), Panti Liman (3 Juli 2020), Lamalera (28 Juli 2020) dan Wolwal (31 Juli 2020). Selanjutnya, dalam rencana, pada tanggal 8 September 2020 mendatang, Gubernur VBL akan meresmikan Cottage dan Restaurant di Praimadita, Sumba Timur.

Jika berkunjung ke Lamalera, dijamin tersedia akomodasi yang memadai. Di sana, Gubernur VBL dan Wagub JNS memberi sentuhan dengan membangun 20 unit homestay di 20 rumah penduduk. Hasil pembenahan sektor pariwisata lainnya adalah pembangunan cottage di destinasi wisata Pantai Liman, Pantai Praimadyta dan Pantai Mulut Seribu.

Dukungan pengembangan pariwisata NTT di destinasi wisata prioritas melalui peningkatan akses jalan, pembangunan sumber air bersih berupa sumur bor (Pantai Liman, Fatumnasi) penyediaan PLTS (Mulut Seribu dan Fatumnasi), dan pembangunan fasilitas amenitas lainnya, seperti; restoran, lopo, toilet, gerai-gerai karya UMKM, areal parkir, dan fasilitas kesehatan sedang dalam pengerjaan. Di samping penyediaan sumber-sumber bahan pokok dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang terus digiatkan hingga saat ini.

Sebuah capaian yang luar biasa di sektor pariwisata adalah, duet kepemimpinan Victory-Joss juga berhasil melobi dan mendapat persetujuan Pemerintah Pusat untuk bersama-sama mengelola Destinasi Super Premium Labuan Bajo. Dalam pengelolaan bersama ini, sedang disiapkan system pengindraan digital di atas dan di dalam air di perairan Labuan Bajo demi keamanan dan keselamatan lingkungan hidup, varanus komodoensis, warga lokal dan turis dari berbagai ancaman yang merusak. Untuk mewujudkan pengindraan digital ini, Pemerintah Provinsi NTT sedang bekerja sama dengan ST Engineering, suatu perusahaan hebat dari Singapura.

Dengan pendekatan pembangunan yang terintegrasi, wajah pariwisata NTT mulai kelihatan paras cantiknya. Besarnya energi yang dikeluarkan dalam membangun Pariwisata mampu mewujudkan ekspektasi imajinasi para wisatawan. Artinya, keadaan riil dari sebuah destinasi sinkron dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka (para wisatawan). Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan bertemu masayarakat, Gubernur Viktor dan Wagub Josef terus mengajak masyarakat untuk membuat orang yang datang ke NTT, harus merasa betah dan nyaman, sampai melupakan lamanya waktu mereka tinggal di NTT.

Ketika mereka lupa pulang dan bahkan ingin kembali lagi ke NTT, juga mengajak teman-temannya datang ke NTT, maka perwujudan ekspektasi imajinasi itu sudah sukses dilakukan. Apalagi, dalam pandangan Gubernur Viktor, dengan pembangunan pariwisata yang berbasis masyarakat maka bukan orang luar NTT saja yang akan menikmati hasilnya, tetapi juga orang NTT sendiri. Pasalnya, wisatawan yang masuk ke NTT tidak lagi tergantung pada hotel, cafe, dan resto untuk mendapatkan pelayanan yang nyaman dan berkualitas, tetapi juga rumah-rumah warga yang sudah disiapkan secara layak dan nyaman.

Oleh karena itu, adagium Victory-Joss dalam pembangunan pariwisata adalah masyarakat lokal NTT harus menjadi tuan di tanah mereka sendiri. Dengan asumsi seperti itu maka dengan adanya potensi pariwisata NTT yang saat ini masif dikembangkan hingga ke pelosok-pelosok desa, nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat lokal akan bertumbuh. Dari situlah, mimpi pemerataan ekonomi yang mampu menyentuh hingga ke level paling bawah masyarakat NTT, akan nyata dan terukur.

Untuk menciptakan pariwisata yang unggul, daya dukung dari sektor lainnya terus digenjot. Salah satunya adalah dukungan komoditas dan konektivitas kewilayaan. Program pariwisata staretgis Victory-Joss akan mewujudkan Ring of Beauty. Semua kawasan pulau dan kabupaten di NTT, terus didorong selama dua tahun terakhir untuk berada dalam satu kawasan Ekonomi yang terkoneksi yaitu Masyarakat Ekonomi NTT. Saat ini, pemerintah terus berjuang menyambungkan pulau-pulau di NTT sebagai kawasan hinterland yang kaya akan High Value Agriculture Product, seperti Vanili, Rumput Laut, Kakao, Alpokat juga beras serta Garam. 

Bagi Gubernur Viktor dan Wagub Josef, apa yang sedang mereka kerjakan adalah “emas”. Mengapa? Karena pada suatu waktu, perekonomian NTT akan menguat. Arus keluar uang dari NTT sudah bisa dibendung, sehingga masyarakat NTT sendiri yang menjadi pemasok semua produk yang dibutuhkan dalam konsumsi masyarakat di semua Kabupaten/Kota di NTT. Itulah kerja besar yang sedang dan terus digarap duet kepemimpinan ini di sektor pariwisata dan sektor pendukung lainnya.

Di bidang infrastruktur lompatan besar juga sedang dilakukan Victory-Joss. Sebagaimana janji keduanya dalam kampanye di masa Pilgub NTT 2018 bahwa, dalam tiga tahun, masalah buruknya infrastruktur jalan provinsi akan tuntas diselesaikan. Kini, setelah dua tahun kepemimpinan Viktory-Joss, persoalan ini sudah mendapat atensi khusus dan dilakukan percepatan yang luar biasa, di mana dari total 2.650 km jalan Provinsi di seluruh NTT, dan sekitar 906,47 km yang dikategorikan dalam kondisi tidak mantap; rusak ringan dan rusak berat, kini sudah dan terus dikebut penyelesaiannya.

Dalam roadmap pemerintahan ini, di tahun 2020, targetnya adalah 497,62 km ruas jalan provinsi yang sudah dan sedang diperbaiki. Selanjutnya pada tahun 2021 akan diselesaikan sisanya. Tetapi akibat pandemi Covid-19 dan masalah keterbatasan anggaran, di Tahun 2020 ini, panjang jalan provinsi yang bisa diselesaikan sampai akhir tahun nanti adalah sekitar 372,74 km. Meski meleset dari target, Victory-Joss berkomitmen untuk menuntaskannya di tahun 2021.

Sebagai solusi dalam penyelesaian jalan provinsi, pemerintah menggunakan beberapa pendekatan. Seluruh pengerjaan jalan tidak seluruhnya menggunakan konstruksi aspal hotmix  atau Hot Roller Sheet (HRS) tetapi dikombinasikan dengan Grading Operation (GO). Pendekatan ini membuat lapisan berbutir dari sirtu gunung atau kali serta GO plus dengan modifikasi struktur, dicampur dengan semen dan zat adiktif. Hal tersebut setara dengan agregat  dan konstruksi bina marga.

Sebab jika harus menggunakan aspal seluruhnya maka dibutuhkan dana sebesar Rp 4 triliun lebih. Sementara anggaran di bidang ini sangat terbatas. Untuk itu, mengingat anggaran yang terbatas, konstruksinya juga selalu disesuaikan dengan spesifikasi. Untuk tempat yang parah, akan digunakan GO dan GO plus, sementara untuk tanjakan atau critical point akan digunakan HRS.

Secara ringkas, untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, terus dipacu pelaksanaannya dengan target meningkatnya mobilitas dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Tiap tahun anggaran pembangunan jalan dan jembatan terus meningkat sesuai kemampuan fiskal Pemerintah Provinsi NTT. Tahun 2018 Rp. 168.359.716.870 meningkat hampir 315%, dan pada tahun 2019 menjadi Rp. 529. 347.810.113,55. Tahun 2020 berdasar data nilai pagu revisi Pergub IV mencapai Rp. 731.448.801.154. Ada kenaikan hampir 450% dari tahun 2018.

Dengan peningkatan anggaran, total pengerjaan jalan provinsi NTT pada tahun 2019 sepanjang 139,47 km dan pada tahun 2020 dikerjakan 357,313 km dengan rincian: 158,65 km (HRS), 14,5 km (GO+), 234,163 (GO). Paket SMI 2020, 154,1 km dan Bank NTT: 108,55 km. Kolaborasi multi pihak dalam pembangunan infrastruktur jalan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dapat ditunjukan oleh pengerjaan jalan untuk mendukung pembangunan Observatorium Timau yang merupakan pusat kajian astronomi terbesar di Asia Tenggara bahkan di Asia yaitu pengerjaan jalan sepanjang 40 km dari total 57 km panjang ruas jalan Bokong-Lelogama-Timau.

Selain masalah infrastruktur, kepiawaian duet kepemimpinan ini dalam menahkodai NTT juga terbukti ampuh dalam memerangi berbagai problem pembangunan lainnya lewat pilihan-pilihan kebijakan yang strategis. Salah satunya, dengan pelibatan semua stakeholders (perguruan tinggi dan lembaga keagamaan) dan kolaborasi dengan kabupaten/kota se-NTT. Spirit kerjasama menjadi pilihan utama VBL- Josef Nae Soi sebagaimana disentil dalam pidato VBL ketika amanah menjadi pemimpin ditempatkan di pundak kami, maka tiba saatnya untuk menabur tambur perang melawan kemiskinan. Kita harus berjuang bersama-sama memenangkan peperangan melawan kemiskinan. Itu menjadi tekad dan komitmen kami agar NTT tidak lagi dilihat sebelah mata sebagai provinsi yg terkenal dengan keterbelakangan.

Dua tahun menahkodai NTT, spirit pembangunan manusia NTT yang bermutu terus ditularkan ke anak-anak NTT. Atensi ini semakin menorehkan prestasi yang prestisius. Anak-anak NTT termotivasi dengan celotehan sang pemimpin tentang spirit kerja cerdas, dengan dukungan kualitas SDM yang mumpuni dan berdaya saing. Terbukti, kualitas pelayanan pendidikan menunjukkan kinerja positif, di antaranya; angka partisipasi sekolah penduduk usia 16-18/SMA-SMK pada tahun 2019 naik menjadi 75,04% dari tahun 2018 sebesar 74,83%. Akreditasi sekolah minimal B pada SMA telah mencapai 51,8% pada tahun 2019 dari 20,9% pada tahun 2018; SMK mencapai 32% pada tahun 2019 dari 8,5% pada tahun 2018; SLB mencapai 9,5% pada tahun dari sebelumnya 2,94%.

Mewujudkan NTT Bangkit dan Sejahtera harus terintegrasi dengan pembangunan di bidang lainnya, yaitu dengan pariwisata sebagai prime mover. Sektor peternakan, pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan dan perindustrian juga terus digenjot. Pembangunan sektor pertanian dan peternakan misalnya, pada tahun kedua kepemimpinan Viktory-Joss ini dilakukan dengan gebrakan besar berupa program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Selain itu juga, pengembangan populasi ternak dan pengembangan marungga.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan melalui kegiatan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang merupakan konsep kolaborasi pertanian peternakan. Terbukti, hingga agustus 2020, tersedia luas tanam sebesar 1.435,61 ha (14,35%) dari 10.000 ha. Bibit jagung yang didistribusikan antara lain jagung komposit sebanyak 31.045 kg dan jagung hibrida sebanyak 64.099 kg. Hasil panen jagung tersebut juga digunakan untuk pembelian ternak sehingga tingkat kepemilikan ternak di masyarakat meningkat.

Jumlah populasi ternak sapi hingga tahun 2019 sebanyak 1.087.761 ekor dengan tingkat realisasi sebesar 99.88%. Peningkatan populasi ini selain dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, juga dikembangkan di 7 instalasi ternak. Untuk ternak kecil populasi yang paling mendominasi adalah ternak babi sebanyak 2.266.222 ekor, ternak kambing sebanyak 835.614 ekor, ayam buras sebanyak 10.984.790 ekor, ayam broiler sebanyak 7.300.378 ekor, dan ayam layer sebanyak 225.389 ekor.

Pembangunan sektor kehutanan diarahkan untuk pengembangan potensi hutan dan sumber daya alam yang ada. Gagasan pembangunan pariwisata NTT di bawah nahkoda VBL-Josef Nae Soi menyentuh juga penataan dan pemanfaatan lingkungan kehutanan, sehingga mendorong aktifitas ekonomi. Pembangunan hutan wisata sedang dilaksanakan melalui pembuatan ekowisata dan ecogreenpark.

Pengembangan hutan wisata di Kabupaten Ende, Timor Tengah Utara dan Manggarai Barat serta pengembangan Hutan Wisata pada Lokasi Mangrove di Kabupaten Rote Ndao, yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana berupa rumah pohon, kolam, panggung, spot-spot foto dan jalur untuk bersepeda serta wahana-wahana lain yang mendukung aktifitas wisata, disesuaikan dengan karakteristik lahan yang ada.

Pada prinsipnya, penataan lingkungan kehutanan dilakukan melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan capaian yang dicapai hanya pada penanaman yang dilaksanakan pada kawasan hutan dan jenis tanaman endemik lokal. Dari luasan RHL yang dilakukan seluas 6.515 Ha hanya 6.000 Ha saja yang dilaksanakan dalam kawasan hutan dan hanya seluas 4.005,35 Ha yang dilakukan dengan menggunakan jenis endemik lokal. Luasan lahan hutan yang dapat dimanfaatkan adalah 279.087,27 Ha kawasan hutan produksi, 186.188,89 Ha  kawasan hutan produksi terbatas dan 80.962,95 Ha hutan produksi konversi. Areal hutan ini dimanfaatkan untuk pengembangan kemiri, jambu mete, kopi, kakao, kenari, kelor, porang, kayu putih, madu dan komoditi kehutanan lainnya.

Peningkatan kesehajateraan masyarakat NTT di bawah nahkoda VBL-Nai Soi digerakkan juga pada sektor kelautan dan perikanan. Dengan spirit kerja keras, terbukti pada tahun 2019 produksi perikanan tangkap sebanyak 20.040 ton dan hingga Mei 2020 sebanyak 10,714 ton. Untuk pengembangan budidaya rumput laut dilakukan melalui pengembangan 5 kluster rumput laut dan penguatan kelompok serta fasilitasi pengembangan kelompok nelayan pembudidaya rumput laut dengan jumlah produksi rumput laut pada tahun 2019 sebanyak 2.395.752 ton.Hasil ini melampaui target produksi di tahun yang sama (2,381.000 ton).

Pada tahun 2020 melalui fasilitasi kepada 4.000 pembudidaya yang tersebar di Kabupaten Sabu Raijua, Alor, Lembata, Flores Timur dan Sikka dengan produksi rumput laut yang ditargetkan sebanyak 2.619.000 ton dan realisasi hingga mei 2020 sebanyak 1.309.500 ton. Peningkatan produksi perikanan melalaui pembudidayaan dengan keramba jaring apung (Kakap &Kerapu) yang telah dikembangkan di Labuan Kalambu sejumlah 1 juta ekor kerapu dan di Mulut Seribu sejumlah 500 ribu ekor kakap putih. Pengembangan ini menunjang ketersediaan pangan berbasis perikanan di lokasi pariwisata estate. Selain itu pengembangan kegiatan perikanan juga ditujukan di lokus-lokus stunting melalui pemberian sistem rantai dingin (coolbox berinsulasi) di 22 Kab/Kota dan pemberian makanan tambahan olahan berbahan dasar ikan.

Sektor perindustrian dan perdagangan juga mendapat atensi VBL-JNS sejak menahkodai NTT. Fokus pembangunan sektor industri dan perdagangan diarahkan untuk pembangunan industri pakan ternakdi NTT yang belum terpenuhi dengan baik sampai sekarang. Di tahun kedua menahkodai NTT, pembangunan industri pakan ternak sedang dalam proses kajian.

Bagaimana dengan industri garam? Itikad baik VBL-JNS mengembangkan industri garam di NTT mendapat sambutan hangat dan positif Presiden Jokowi saat meninjau pengembangan industry garam di NTT, khususnya di Kabupaten Kupang. Menurut Presiden Jokowi, dari total 600 hektare, sudah 10 hektar lahan garam yang dikembangkan. NTT semestinya mampu memberikan sumbangsih besar dalam mengembangkan 21.000 hektar lahan di Inodonesia. Dua tahun VBL-JNS memimpin, optimisme pembangunan industri garam terus diperjuangkan.

Di sektor bahari, sebagai provinsi kepulauan, telah digodok pembangunan dan peningkatan pelabuhan-pelabuhan NTT bertaraf internasional yang melibatkan konsultan global yang bermarkas di Singapura SEAPORT. Pembangunan pelabuhan ini akan membawa NTT menjadi provinsi bahari yang handal dalam kaitan konektivitas dalam daerah, nasional hingga internasional. Pembangunan pelabuhan ini akan diikuti dengan perluasan terminal yang terintegrasi dengan rencana Kawasan Industri Bolok-Tenau di lahan seluas 900 Ha.

Untuk mitigasi bencana, mengingat kondisi NTT sebagai supermarket bencana alam nasional karena berada persis di Ring of the Fire (lingkaran gunung api), gagasan dan aksi nyata pembentukan dan pengembangan Desa/kelurahan Tangguh Bencana secara bertahap digencarkan pada 22 Kabupaten/Kota NTT. Ini menjadi salah satu strategi memberdayakan masyarakat itu sendiri agar tanggap terhadap bencana. 

Problem krusial lainnya yang masih mewarnai pembangunan NTT adalah pembangunan prasarana sanitasi lingkungan berupa penyediaan air bersih dan sarana pengelolaan limbah. Penyediaan air bersih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah-daerah krisis air bersih dan penyediaan air di destinasi wisata melalaui pembangunan sumur bor. Pada tahun 2019 sebanyak 35 unit sumur bor eksplorasi, 8 unit optimalisasi sumur bor dan 10 unit sumur bor produksi telah selesai dikerjakan. Sarana pengelolaan limbah yang akan disediakan adalah melalui  pembangunan UPTD Pengelolaan limbah B3 dengan skala pelayanan regional yang di bangun di Kabupaten Kupang dan di  Manggarai Barat.

Penyediaan prasarana energi melalui bantuan pemasangan instalasi listrik sambungan rumah bagi masyarakat tidak mampu yang direncanakan di tahun 2020 sebanyak 1.061 yang tersebar di Kabupaten Alor, TTS, TTU, Sabu Raijua, Ngada, Manggarai Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dengan tingkat elektrifikasi yang rendah. Action pembangunan belum dikerjakan mengingat kondisi pandemic covid 19. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang belum dilayani oleh jaringan PLN, dikembangkan sumber energi alternatif yaitu pembangunan PLTS sehen sebanyak 357 unit pada tahun 2019.

Di bidang reformasi birokrasi, Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi sangat percaya bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance, sehingga visi besar tentang birokrasi yang handal akan tercapai. Dalam dua tahun kepemimpinan, Victory-Joss sudah berupaya menerapkan prinisp-prinsip good governance tersebut. Terbukti, beberapa perubahan fundamental dari aspek pelayanan dan penerapan teknologi dalam manajemen pemerintahan yaitu e-government telah diwujudkan. Kebijakan anggaran yang ditetapkan memprioritaskan belanja publik sebesar 70% dari total anggaran.

Dua tahun menahkodai NTT, Victory-Joss berhasil memberi pesan tegas dan positif tentang aura dan geliat pembangunan di NTT, di mata Pemerintah Pusat. Lewat berbagai pola pikir dan cara kerja inovatif yang digaungkan duet VBL-JNS, posisi daya saing NTT di skala nasional menunjukkan peningkatan luar biasa dan sungguh menggembirakan. Laporan Indeks Daya Saing Daerah Provinsi NTT tahun 2020 menggambarkan kondisi pembangunan NTT selama dua tahun terakhir pada aspek kelembagaan, ekosistem inovasi, sumber daya manusia dan ekonomi mengalami peningkatan drastis dari 0 di tahun 2018 menjadi 3,07 di tahun 2020.

Hasil ini dikategorikan tinggi dan mendapat apresiasi dari Kementrian Ristek-BRIN, meski terdapat beberapa pilar pembangunan, seperti; kesiapan teknologi, kapasitas inovasi, ukuran pasar dan dinamika bisnis yang terus dibenahi. Ini menjadi konsentrasi VBL-JNS dalam mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sedangkan untuk Indeks Inovasi Daerah, telah diikutsertakan 55 jenis Inovasi, dengan skor 5.632 dalam Innovation Government Award 2020.

 Dalam urusan penataan asset daerah, VBL-JNS memiliki sikap yang tegas dan tetap memerhatikan aspek humanis dan persuasif. Di tahun kedua kempemimpinannya, beberapa aset daerah seperti renegosiasi pemanfaatan aset kawasan Lippo Plaza dan sekitarnya, Hotel Sasando (64.300 m2), tanah di Manulai II (231.524 m2) untuk pembangunan Rumah Sakit Pusat yang sedang dikerjakan, pantai Pede (31.670 m2), dan lahan Besipae (37.800.000 m2). Persoalan batas daerah (Matim-Ngada dan Sumba Barat-Sumba Barat Daya) juga telah diselesaikan lewat pendekatan kooperatif dan humanis VBL-JNS.

Pembuktian karya pembangunan VBL- JNS selama dua tahun sepatutnya diapresiasi. Tidak sebatas pada jejak karya yang ditinggalkan tetapi gagasan-gagasan brilliant pembangunan yang telah tercatat apik dalam sejarah pembangunan NTT dua tahun belakangan ini. Gagasan pemberdayaan ekonomi local community melalui produk minuman tradisional (minol) “Sophia” telah di-launching dan diproduksi. Gagasan inovasi pengembangan kelor mulai dirintis para pelaku UMKM dengan varian produk, seperti teh kelor, kue lapis kelor, kripik kelor, susu kelor dan sebagainya. Yang masih menjadi pekerjaan rumah di sisa tiga tahun terakhir adalah pengembangan industri kelor. Untuk mewujudkan pengembangan industri kelor, Pemerintah Provinsi telah menyediakan lahan dengan populasi kelor yang telah ditanam sebanyak 2.137.871 pohon. Butuh energi yang lebih besar lagi untuk mewujudkan cita-cita pembangunan kelor ini.

Untuk mendukung pembangunan ekonomi NTT, VBL- JNS menginisiasi pembentukkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Provinsi NTT yang terdiri dari (Liman, Melolo, Teluk Kupang, Mulut Seribu, Mbay, Teluk Maumere, dan Wolwai). Ekspektasi yang diinginkan adalah terjalin perdagangan domestik di kawasan NTT dengan sumber daya yang dihasilkan dari bumi Flobamora.

Dua tahun adalah waktu yang masih terlalu singkat untuk menilai sukses-tidaknya duet kepemimpinan ini. Tetapi, minimal, pada hari ini, 5/9/2020 tepat dua tahun VBL-JNS menahkodai NTT, sudah terlihat bahwa ada banyak karya nyata yang ditorehkan. Bukti karya VBL-Nae selama dua tahun mulai memperlihatkan kemenangan demokrasi di NTT. Sebuah kepemimpinan yang demokratis, dalam pandangan Gubernur VBL harus bisa memberi kesejahteraan. Sebab, demokrasi adalah jalan menuju kesehjateraan. Demokrasi tanpa kesehjateraan adalah sebuah kemunafikan; Sebuah dosa politik.

5/9/2023, VBL-JNS menyudahi periode  kepemimpinan NTT 2018-2023. Apakah akan ada banyak torehan keberhasilan pembangunan yang diraih di sisa tiga tahun terakhir? Masih banyak karya yang semestinya dituntaskan untuk membawa NTT menuju Bangkit dan Sejahtera. Capaian selama dua tahun ini telah membuktikan kerja keras dan kerja cerdas yang luar biasa. Narasi optimisme VBL- JNS dalam visi NTT Bangkit, NTT Sejahtera, pada waktunya terwujud. Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “NTT Bangkit merupakan suatu gerakan restorasi untuk mendobrak batu penghalang kemajuan dan berani keluar dari masa lalu dan masuk ke dalam masa pengharapan”. (ADV)

loading...

promoNTT.com

Next Post

Pariwisata Sebagai Prime Mover Lahir Dari Kajian Ilmiah

Ming Sep 6 , 2020
STAF Khusus Gubernur NTT, Prof. Daniel D. Kameo, Ph.D mengungkapkan, sektor pariwisata […]
error

Bagikan ke Teman

RSS
Follow by Email
Instagram